KA Dhoho - Surabaya Blitar lewat Kertosono
Selamat berbahagia semua.
Kali ini saya akan membahas Kereta Api Dhaha. Sebagai penjelasan awal, saya adalah salah satu manusia yang sedang mencari ilmu di Timur Jawa Dwipa Kota Surabaya. Saya penikmat tempat. Untuk perpindahan dari tempat satu ke tempat lainnya tentu saya butuh alat transportasi. Saya tidak selamanya pergi dengan kendaraan pribadi dan tidak selamanya juga dengan kendaraan umum. Malah lebih sering saya menggunakan jasa layanan transportasi umum seperti kereta api untuk pulang kampung dari Surabaya.
Beberapa orang seringkali berkomentar lebih enak naik motor dari pada kereta, karena sebenarnya jarak tempuh surabaya dan kota tujuan saya tidak jauh. Kalau kalian penasaran, clue dari kota asal saya adalah Majapahit.
Ini sudah lebih dari 2 tahun saya hampir selalu menggunakan kereta api untuk pulang pergi surabaya. Tidak setiap weekend saya pulang. Dan tidak setiap pulang saya menggunakan kereta. Saya memang lebih menyukai kereta api ketimbang transportasi umum darat lain seperti bus atau angkot. Rasanya memang jauh lebih nyaman kereta. Tapi kalau kalian penggemar bus alias bus mania, saya tidak memaksa untuk mengakui kereta api menjadi transportasi umum darat ternyaman.
Ada beberapa kereta yang mengangkut penumpang dari Stasiun Surabaya Kota ke tempat tujuan saya. Stasiun yang biasa saya gunakan untuk memesan tiket adalah Stasiun Gubeng Lama. Sedikit informasi Stasiun Gubeng Lama (dekat Hotel Sahid) melayani penjualan Kereta Api (KA) kelas ekonomi dan Stasiun Gubeng Baru (dekat PDAM) melayani penjualan KA kelas bisnis, eksekutif dan beberapa ekonomi jarak jauh.
Saya biasa menggunakan Kereta Api Dhoho lewat Kertosono tujuan Blitar dan KRD Kertosono ke tempat tujuan saya. KA Dhoho merupakan kereta berjenis ekonomi, tapi tetap ada AC di dalamnya. Sehingga kalian tidak kepanasan (selama penumpang tidak penuh sesak atau AC nya berfungsi dengan baik). Dhoho atau Daha, merupakan suatu dari kerajaan nusantara yang berada di wilayah kadiri atau Kediri.
Jadwal KA Dhoho Pulang-Pergi bisa di update di Official Account dari KAI. Atau kalian bisa pergi ke Stasiun untuk melihat jadwal atau bertanya disana. Dari Surabaya ke tujuan saya tiket bisa dibeli seharga 10.000 rupiah. Cukup murah kan? Kalau kalian naik sampai ke stasiun Curahmalang (wilayah Jombang) maka harganya akan naik 12.000 rupiah. Kalau ingin naik sampai ke tujuan akhir Kereta Api Dhoho alias Blitar cukup dengan membayar 15.000 rupiah. Masih cukup terjangkau kan?
Kereta api ekonomi jarak dekat memang tidak hanya berhenti di stasiun besae, namun juga di stasiun kecil. KA Dhoho berangkat dari Surabaya Kota atau biasa disebut Semut, Stasiun Surabaya Gubeng, Stasiun Wonokromo, Stasiun Sepanjang, Stasiun Krian, Stasiun Tarik, Stasiun Mojokerto (tempat biasa saya berhenti), Curahmalang (stasiun kecil yang dekat dengan Trowulan, pusat kerajaan Mojopahit, saya sering mengunjunginya atau berhenti disana), Stasiun Sumobito (stasiun kecil dekat pasar yang juga saya pernah kunjungi), Stasiun Peterongan (Stasiun kecil ini sangat amat dekat dengan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang), Stasiun Jombang, Stasiun Sembung, Stasiun Kertosono, Stasiun Purwoasri, Stasiun Papar, Stasiun Kediri, Stasiun Ngadiluwih, Stasiun Kras, Stasiun Tulungagung, Stasiun Sumbergempol, Stasiun Ngunut, Stasiun Rejotangan, dan terakhir Stasiun Blitar.
Sebenarnya, bisa dibilang banyak sekali tempat wisata yang bisa di akses dengan kereta api ini. Sebut saja pusat Jawa Timur alias Surabaya. Mojokerto dengan Mojopahit, Tulungagung, Kediri, Blitar dengan segudang warisan Bung Karno, bahkan pantai pantai yang belum tersentuh 'banyak' tangan manusia. Tinggal menunggu waktu untuk ekspedisi kesana.
Oh ya, sedikit cerita, ketika tempat duduk telah habis terjual, akan dijual tiket untuk berdiri alias tanpa tempat duduk. Kalian pastinya akan ditanyai ketika membeli tiket di loket ketika tiket duduk telah habis, 'berdiri nggak apa-apa?'. Beberapa kali saya mendapat tiket berdiri dengan harga sama seperti yang duduk (memang demikian peraturannya). Dari Surabaya ke kota tujuan, berdiri tidak cukup lama. Hanya sekitar satu jam setengahan saja, akhirnya, yey, saya sampai.
Memang benar harga kereta api kini cukup mahal dibanding dulu ketika awal tahun 2000an (sumber: mulut kedua orang tua saya), namun bisa dibilang kualitas kenyamanannya juga berbeda. Dulu ayam bisa masuk kereta api di tempat duduk diantara para penumpang. Penumpang alay pun bisa naik di atas gerbong sambil menikmati dekat dengan kematian dan angin sepoy. Itu dulu. Kini wajah KAI sudah jauh berubah.
Lain kali, kalian harus coba. Sekali-sekali tinggalkanlah mobil ber -AC kalian yang longgar dan nyaman itu dengan naik kereta. Siapa tahu ketagihan? Saya melampirkan tautan video milik saya ketika sedang pulang kampung. Selamat berkereta api!
Lain kali akan saya tulis opini saya untuk KRD Kertosono dan kisah perjalan saya yang lain.
Komentar
Posting Komentar