Malulah Menulis Bila Tidak Banyak Membaca

Hai, cukup lama saya tidak menulis dalam blog ini. Sebenarnya, saya sedang sangat tidak tahu harus menulis apa. Alasannya karena saya merasa bacaan saya akhir akhir ini sangat kurang. Dunia millenial dengan Line, Whatsapp, Instagram, dsb., membuat saya terlena dengan ponsel saya. Berjam-jam menghabiskan waktu bersama dengan ponsel saya. Melihat melalui jendela layar ponsel pintar dari masalah sepele sampai bertele-tele. Memang benar, teknologi membuat segalanya jadi mudah, yang jauh pun terasa dekat.

Entah mengapa saya merasa kurang bacaan walaupun internet sudah membuatnya jadi banyak. Saya merasa bacaan yang saya baca tidak memiliki entitas atau bobot lagi. Sebut saja dengan makin maraknya berita online dengan platformnya yang sulit dibedakan mana yang menulis dengan baik, dengan data yang valid dan tulisan yang memuat konten hoax, menggiring opini masyarakat kepada perbedaan pendapat. Kini, dalam website berita dengan integritas tinggai pun telan sulit membedakan mana wartawan asli dan wartawan KW yang langsung comot dari sana sini untuk dijadikan berita. Yah, mungkin itu merupakan kritik pribadi dari saya soal berita-berita yang marak di media.

Bagaimana menanggapi berita-berita yang kita tidak tahu kebenarannya? Tentu saja jawaban pertamanya adalah berpikir kritis. Bertanya-tanyalah kepada diri sendiri dan sumber berita tersebut, benarkah demikian? Ketahui sumber utama dalam berita tersebut. Cek ulang kepada website-website resmi lembaga terkait. Bila tidak jelas dan tidak dapat ditelisik kebenarannya. Tolong jangan diteruskan untuk dibagikan info tersebut ke teman atau bahkan keluarga. Dengan kemudahan akses jempol diatas layar kini pun muncul slogan, "jempolmu harimaumu". Ini sangat berkaitan dengan penyebaran berita hoax. Tolong tahan jempol untuk tidak menyentuh gambar berbagi dan cukup berhenti pada diri sendiri.

Malulah menulis atau membagi unggahan bila tidak tahu darimana sumber-sumber data yang valid. Salah satu kunci untuk mencari data yang valid adalah melalui banyak-banyak membaca bacaan terkait. Membaca tentu sangat membantu kehidupan kita. Dimanapun kapanpun kita bisa membaca. Tapi sekali lagi, kita juga harus tahu kualitas bacaan kita. Terus cek dan re-cek apa yang sudah kita baca. Jangan sampai mata kita buta pengetahuan karena sumber bacaan yang salah.

Jangan sampai kita menjadi pelaku penyebar berita bohong, apalagi ujaran kebencian. Jangan langsung percaya pada gosip yang beredar. Segera cari bukti bila memang berita tersebut mengganggu kita. Jangan lupa juga untuk melaporkan unggahan tersebut kepada kementrian kominfo Indonesia. Dengan cara mengirim email langsung ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id . Laporan akan lebih efektif bila mencantumkan link, serta sejumlah bukti data secara terperinci yang benar-benar menjadi keberatan pelapor dan diperkirakan berdampak buruk bagi kepentingan publik. Data bisa berupa rekaman tampilan layar (screenshot) atau keterangan yang padat dan jelas. Kedua, dapat mengunjungi situs milik kominfo khusus  untuk pengaduan atau internet positif. berikut linknya http://trustpositif.kominfo.go.id . sudah tersedia beberapa field/kolom yang mempermudah melaporkan website berkonten negatif.

Mari sebarkan internet positif! Mari membaca dengan berpikir kritis!
#InternetPositif

Sumber:
https://kominfo.go.id/content/detail/6995/bagaimana-cara-mengadukan-konten-yang-mengadung-sara-atau-hatespeech-ke-kementerian-kominfo/0/faq

https://ppid.kominfo.go.id/jenis-informasi/inf-berkala/pengaduan-masyarakat1/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Let's get Semarang!

Kisah Cinta