Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Bukan Hal yang buruk

Hey, yang paling kuinginkan adalah melihatmu besok dan setiap besok. Tolong biarkan aku meminjam hatimu. Ketika seseorang melukai hatimu dengan sebilah pisau, dan kamu berdarah. Aku adalah orang yang bisa menyembuhkanmu selalu. Aku tidak akan berhenti menyembuhkanmu sampai kau percaya aku bisa melakukannya. Hey, kamu terlalu berharga untukku. Jangan sakiti dirimu dengan janji orang lain yang telah melukaimu. Jangan berpura-pura seperti jatuh cinta padaku adalah hal yang buruk. Mungkin saja kamu bisa mewujudkan mimpimu bersamaku bukan? Kita akan menghabiskan waktu dan uang kita bersama-sama. Hal itu menyenangkan. Bagaimana jika, aku menjadi suara terakhir yg kau dengar malam ini? Dan setiap malam yang tersisa sepanjang hidup kita? Lalu tiap pagi orang pertama yang kulihat adalah dirimu. Ah, kau adalah tempat yang tepat untuk memulai segala hal. Jangan menghabiskan waktu dengan janji yang sia-sia. Kemarilah, kalau kau jatuh, kau akan selalu jatuh ke pelukanku. Jadi jangan mengangga...

KA Dhoho - Surabaya Blitar lewat Kertosono

Selamat berbahagia semua. Kali ini saya akan membahas Kereta Api Dhaha. Sebagai penjelasan awal, saya adalah salah satu manusia yang sedang mencari ilmu di Timur Jawa Dwipa Kota Surabaya. Saya penikmat tempat. Untuk perpindahan dari tempat satu ke tempat lainnya tentu saya butuh alat transportasi. Saya tidak selamanya pergi dengan kendaraan pribadi dan tidak selamanya juga dengan kendaraan umum. Malah lebih sering saya menggunakan jasa layanan transportasi umum seperti kereta api untuk pulang kampung dari Surabaya. Beberapa orang seringkali berkomentar lebih enak naik motor dari pada kereta, karena sebenarnya jarak tempuh surabaya dan kota tujuan saya tidak jauh. Kalau kalian penasaran, clue dari kota asal saya adalah Majapahit.  Ini sudah lebih dari 2 tahun saya hampir selalu menggunakan kereta api untuk pulang pergi surabaya. Tidak setiap weekend saya pulang. Dan tidak setiap pulang saya menggunakan kereta. Saya memang lebih menyukai kereta api ketimbang transport...

Yang Menghantui

Aku tahu, kau tidak pernah mau aku ada di dekatmu. Tapi maaf, aku sangat menyukaimu. Dalam diam pun, sukaku bertambah. Semakin bergulung semakim tebal. Semakin tumbuh yakinku untuk menjadikan perasaan padamu abadi. Kau tidak perlu mengingatkanku. Aku tahu, aku sangat tahu, sangat amat tahu, memang tidak mungkin sejatinya aku menginginkanmu. Namun, sekalinya lagi, aku tidak mampu tidak bergelayut padamu.  Bagiku kau inang. Aku tidak mampu terlalu jauh darimu. Jangan terlalu kasar. Tolong jangan usir aku. Aku tahu aku hanya jiwa terbuang yang menginginkan mengisimu seutuhnya. Aku tahu aku sangat terobsesi dengan jiwamu yang terang, debaran cinta berdosa. Penuh sesak. Apalagi padamu. Akut. Aku tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku bahkan tidak berfikir kau dan aku ini berbeda. Tuhan, tolong buatlah dia datang melihatku sekali. Berikan aku peluk ciumnya sekali. Mungkin aku akan pergi setelah aku tidak sanggup lagi. Namun bagaimana? Kau sudah menahun bertahun-tahun pun...

Esok Senja Datang

Ah, hari ini pun saya tidak melihat senja Kalaulah sore hilang cepat dan malam datang terlambat Bisa kusambut senyumanmu Aku ingat kala aku bercengkrama denganmu Seandainya masa bisa terulang Deru angin malam yang gusar Meraung di atas tepian kepulan kopi hitam Aku tetap menantimu Bersama secangkir minuman favoritmu Segeralah pulang Kamu tahu kan, kalau aku rindu Tidak perlulah kamu beri aku jingga yang indah Aku tidak butuh yang kau bawa Aku hanya butuh kau Jangan takut datang padaku Aku adalah tempatmu pulang Sebelum kopi hitam yang kau suka termakan beku Jengkelnnya rasa menunggu mengganggu Ketahuilah, Aku menantimu Datanglah. Deru angin pun takjub dengan rasa rinduku, 

Melihat Tak Terlijhat

Saya memandang dalam kepada engkau Di tempat kau tidak melihat saya Saya hanya menatap engkau Yang dinamis tanpa hambatan Yang bergejolak tanpa paksaan Yang mengaung tanpa geram Yang menukik tanpa bisikan Saya mengalir begitu saja Walaupun saya diberada pada tatapmu pun kau tak akan tahu Sejatinya saya melukiskan senyum mustahil Tiap hari saya mengikuti kau Tiap hari saya tahu Tiap hari saya merasa jauh Tiap hari saya menyesali Kalau saya bisa, niscaya saya peluk jemari kau saat lalu, saya bisa membisik cinta pada kau kemarin senja di taman itu Sayang, saya hanya tidak mampu tampak Yakinlah hatiku, suatu saat kau akan tahu Saya menginginkan engkau di awang-awang Saya bersama emosi afeksi membara yang tersudut Tidak mampu beraksi apa bagaimana Hanya melihat engkau yang bahagia Ah, nikmatnya melahap senyuman kala pandangan bersua namun aku tak ada